PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Managemen Sekolah
Manajemen
sekolah dapat di identifikasi dengan kepemimpinan sekolah. Ada tiga macam teori
kepemimpinan sebagai berikut:
Pertama,
teori sifat (trait theory) sering
disebut juga teori genetis karena seorang pemimpin dianggap memiliki
sifat-sifat yang dibawa semenjak lahir sebagai sesuatu yang diwariskan. Teori
ini sering disebut teori bakat karena menganggap bahwa pemimpin itu dilahirkan
bukan dibentuk. Asumsi dasar dari teori ini menyatakan bahwa kepemimpinan
memerlukan serangkaian sifat, ciri atau perangai tertentu yang menjamin
keberhasilansetiap situasi. Keberhasilan seorang pemimpin diletakkan pada
kepribadian (personality) pemimpin
itu sendiri. Studi terhadap pemimpin yang berhasil dimaksudkan agar diketahui
karakteristik yang dapat dikembangkan untuk mencapai kepemimpinan yang baik.
Adapun studi terhadap pemimpin yang kurang baik atau tidak berhasil dimaksudkan
untuk mengetahui karakteristik yang harus dihindari. Oleh karena itu, teori ini
menganjurkan bagi pemimpin untuk selalu berusaha secara periodik mengembangkan
kepribadiannya. Seorang pemimpin bisa berhasil apabila ia berusaha menumbuhkan
dirinya sebagai personalitas yang penuh.
Kedua,
teori perilaku (behaviour theory)
yang memiliki dasar pemikiran bahwa kepemimpinan harus dipandang sebagai
hubungan di antara orang-orang, buka sebagai sifat-sifat atau ciri-ciri seorang
individu. Oleh karena itu, keberhasilan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh
kemampuan pemimpin itu sendiri dengan anggotanya. Dengan kata lain, teori ini
sangat memperhatikan perilaku pemimpin (sebagai aksi) dan respons kelompok yang
dipimpinnya (sebagai reaksi). Teori perilaku, disebut juga teori humanistic, lebih menekankan pada model
atau gaya kepemimpinan yang dijalankan seorang pemimpin. Model dan gaya
kepemimpinan ini telah dijabarkan oleh James Owens dalam suatu matriks tentang
gaya-gaya kepemimpinan dalam bentuk suatu model analitis yang versinya dapat
dipandang sebagai model-model baku. Dalam matriks itu (dalam Huseman, 1979:
305-312) digambarkan lima gaya kepemimpinan, yaitu sebagai berikut:
1. Pemimpin
otokratis adalah pemimpin yang memiliki wewenang (authority) dari suatu sumber (misalnya karena posisinya),
pengetahuan, kekuatan atau kekuasaan untuk membrikan penghargaan ataupun
menghukum.
2. Kepemimpinan
birokratis adalah gaya kepemimpinan yang dijalanakan dengan memberitahukan para
anggota (bawahan) apa dan bagaimana ssuatu itu dilaksanakan. Dasar dari
perintah tersebut hampir sepenuhnya menyangkut kebijakan, prosedur, dan
aturan-aturan organisasinya. Ciri khas seorang yang birokratis adalah bahwa
semua aturan atau ketentuan organisasi itu adalah absolut, artinya pemimpin
mengatur kelompoknya dengan berpegang pada aturan-aturan yang lebih ditetapkan.
3. Gaya
kepemimpinan diplomatis, secara umum dapat dikatakan sebagaimana seorang
saleman yang melalui seninya berusaha mengadakan persuasif secara pribadi.
Jadi, sekalipun ia mewakili wewenang ataupun kekuasaan yang jelas, ia kurang
suka menggunakan kekuasaannya itu. Ia cenderung memilih cara menjual sesuatu
(memotivasi) kepada bawahannya dan mereka menjalankan tugas atau pekerjaannya
dengan baik.
4. Pemimpin
dengan gaya partisipastif adalah pemimpin yang selalau mengajak secara terbuka
kapada para bawahannya untuk berpartisipasi atau ambil bagian, baik secara luas
ataupun dalam batas-batas tertentu dalam pengambilan keputusan, perumusan
kebijakan dan metode-metode operasionalnya.
5. Free rein leader
adalah pemimpin yang seakan-akan seperti menunggang kuda yang melepaskan kedua
tali kendali kudanya. Walaupun dalam arti yang sesungguhnya ia bukanlah seorang
pmimpin yang benar-benar membiarkan bawahannya tanpa pengawasan sama sekali,
pertama-tama ia menetapkan tujuan yang harus dicapai oleh anggota-anggota
kelompoknya disertai dengan kebijakan tertentu, dana yang diperlukan dan jadwal
pelaksanaan pekerjaan atau tugas tersebut. Tindakan kedua, ia melepaskan
anggota atau bawahannya untuk bebas bekerja dan brtindak tanpa pengarahan
ataupun kontrol lebih lanjut, kecuali apabila mereka memintanya. Oleh karena
itu, untuk mengembangkan teori ini harus didasarkan pada kehendak atau kemauan
untuk mempelajari dan merealisasikan kebiasaan yang bersifat konstruktif dalam
berbagai dimensi kepemimpinannya.
Ketiga,
teori lingkungan (environment theory)
beranggapan bahwa munculnya pemimpin-pemimpin itu merupakan hasil dari waktu,
tempat, dan keadaan. Situasi dan kondisi tertentu yang berbeda menyebabkan
kualitas kepemimpinan berbeda pula. Seorang pemimpin yang berhasil pada situasi
dan kondisi tertentu belum tentu akan berhasil pada situasi dan kondisi yang
lain.
Teori
lingkunagn pernah dikmbangkan oleh V.H. Vroom dan Philip Yeloow (1973) dengan
mengacu pada pendekatan situasional yang berusaha memberikan model normatif.
Mereka berasumsi bahwa kepemimpinan akan berhasil apabila pemimpin mampu
bersikap fleksibel
untuk mengubah gayanya agar cocok dengan situasi dan kondisi. Jadi situasi dan
kondisi yang berubah menghendaki gaya
dan
model kepemimpinan yang berubah. Jika tidak demikian, kepemimpinan itu tidak
akan berhasil secara maksimal.
Alvin
W. Gouldner misalnya (dalam Porter, 1964: 412), setelah melakukan penelitian,
menyimpulkan bahwa pada saat ini, tidak ada bukti yang dapat diandalkan
mengenai keberadaan sifat-sifat kepemimpinan universal. Di antara kelemahan yang
dimiliki teori sifat adalah:
1. Di
antara pendukungnya tidak terdapat penyesuaian atau kesamaan mengenai perincian
sifat dimaksud.
2. Terlalu
sulit untuk menetapkan sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
3. Sejarah
membuktikan bahwa situasi dan kondisi tertentu memerlukan sifat pemimpin yang
tertentu pula.
Demikian juga dengan teori perilaku yang
melahirkan berbagai gaya kepemimpinan tidak dapat dipakai untuk segala situasi
yang dihadapi oleh seorang pemimpin. Hal ini disebabkan setiap situasi memiliki
variabel yang berbeda-beda. Di samping itu, para pakar juga menganggap teori
lingkungan kurang sempurna, tidak dapat menjamin berjalannya kepemimpinan.
Administrasi maupun manajemen dipandang
sebagai suatu proses kegiatan, di dalamnya terdiri dari kegiatan manajerial
yang bersifat manajerial dan kegiatan yang bersifat operatif. Kegiatan
manajerial adalah kegiatan yang seyogianya dilakukan oleh orang-orang yang
memiIiki status kewenangan sebagai manajer. Sedangkan kegiatan operatif adalah
pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya diselesaikan oleh para pelaksana lapangan. Administrasi
sekolah (baca: juga manajemen sekolah) manakala dipandang dari sisi sebagai
suatu ilmu merupakan aplikasi dari ilmu administrasi dalam bidang persekolahan,
(baca: juga pendidikan) karenanya keduanya telah memenuhi syarat sebagai suatu
ilmu.
B.
Tujuan
Manajemen Sekolah
Pada
hakikatnya, tujuan manajemen sekolah tidak dapat terlepas dari tujuan sekolah
sebagai suatu organisasi. Sekolah sebagai suatu organisasi memiliki tujuan yang
ingin dicapai yang disebut tujuan institusional (kelembagaan) baik tujuan institusional
umum maupun tujuan institusional khusus. Tujuan institusional umum mengacu pada
jenjang dan jenis pendidikan, sedangkan tujuan institusional khusus di samping
diwarnai oleh penyelenggara pendidikan itu sendiri. Sebagai suatu contoh:
Sekolah Menengah Pertama (SMP) memiliki tujuan institusional umum yang sama;
tetapi pada SMP diselenggarakan oleh negara dan yang satunya oleh yayasan
tertentu akan memiliki tujuan institusional khusus yang berbeda. tujuan
institusi akan dapat tercapai tergantung dari bagaimana lembaga tersebut
melakukan tugas kelembagaannya. Kehadiran manajemen dalam proses persekolahan
sebagai salah satu alat untuk membantu memperlancar pencapaian tujuan.
Pencapaian tujuan sekolah dipengaruhi oleh banyak faktor yang harus
dipertimbangkan dalam proses kegiatan sekolah. Dalam rangka merumuskan tujuan
sekolah seorang manajer sekolah harus mempertimbangkan beberapa faktor.
Faktor-faktor
tersebut antara lain:
1. Karakteristik.
2. Kemampuan
dan keyakinan guru-guru.
3. Harapan-harapan
masyarakat.
4. Aktivitas
pemerintahan.
5. Aturan-aturan
dan hukum¬hukum yang berlaku di masyarakat.
6. Masalah-masalah
dan persoalan-persoalan serta pengaruh-pengaruh masyarakat.
Tidak kalah pentingnya dari semuanya adalah sumber
daya masyarakat, baik sumber daya alamnya maupun sumber daya manusianya. Sumber
daya manusia merupakan sumber daya yang sangat penting dan strategis, karena di
tangan manusialah sumber daya lainnya dapat ditentukan. Faktor-faktor yang
perlu dipertimbangkan dari administrator dan kepemimpinan antara lain faktor
pendorong hidupnya, ide-idenya, kemampuannya, gagasan-gagasannya maupun faktor
keterampilannya.
Dengan demikian diperlukan adanya keterlibatan semua
komponen {man, material, money dan message), secara berdaya guna dan berhasil
guna. Kegiatan manajemen tidak hanya diperlukan pada lingkup institusi atau
kelembagaan saja, namun pada setiap tingkatan diperlukan aktivitas manajemen.
Sebagai contoh: guru yang ingin mengajar dengan hasil yang baik ia harus
melaksanakan fungsi-fungsi manajemen pembelajaran baik sebelum pembelajaran
dilaksanakan, pada saat pembelajaran maupun sesudah pembelajaran selesai.
Tujuan pendidikan nasional dapat tercapai dengan baik diperlukan partisipasi
aktif seluruh komponen masyarakat. Persoalan yang muncul adalah bagaimana meningkatkan
peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan praktik-praktik pendidikan.
Sehingga dengan demikian slogan pendidikan sebagai tanggung jawab bersama dapat
direalisasikan dalam praktik, tujuan khusus dilaksanakannya manajemen sekolah
yang baik agar: Pertama, pada setiap jenis dan jenjang pendidikan terjadi
adanya efektivitas produksi. Kedua, tercapainya efisiensi penggunaan sumber
daya dan dana, tidak terjadi pemborosan baik waktu, tenaga maupun uang dan yang
lainnya. Ketiga, para lulusannya mampu menyesuaikan diri dalam kehidupan di
masyarakat, dan keempat, terciptanya kepuasan kerja pada setiap anggota warga
sekolah. Untuk itu perlu dibangun suatu iklim organisasi sekolah yang sehat.
Teori kepemimpinan merupakan teori yang berusaha
untuk menerangkan bagaimana pemimpin dan kelompok yang dipimpinnya dapat
berperilaku dalam berbagai struktur kepemimpinan, budaya dan lingkungannya.
Menurut Usman (1991: 2), fenomena kepemimpinan
sekurang-kurangnya dapat dibahas dalam tiga dimensi pengaruh, yaitu sebagai berikut:
1. Dimensi
legitimasi, melihat posisi pemimpin dalam organisasi sosial.
2. Dimensi
visibilitas, melihat tingkat pengakuan kepemimpinan seseorang, baik yang
dipimpin maupun dari pimpinannya, dan
3. Dimensi
pengaruh, melihat bidang ajang atau kiprah kepemimpinan seseorang.
Pada dasarnya teori kepemimpinan
itu ada tiga macam, yaitu:
1. Teori
sifat.
2. Teori
perilaku.
3. Teori
lingkungan.
C.
Fungsi
Manajemen Sekolah
Kepala
sekolah
termasuk pemimpin formal dalam lembaga pendidikan. Kepala sekolah merupakan penanggung
jawab utama secara struktural dan administratif di sekolah. Sebagai kepala
sekolah, ia juga berfungsi sebagai pemimpin yang menjalankan kepemimpinannya di
sekolah, dalam menjalankan kepemimpinannya, kepala sekolah dibantu oleh seorang
wakil kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah memegang peranan penting
dalam perkembangan sekolah. Jiwa kepemimpinan kepala sekolah dipertaruhkan
dalam proses pembinaan para guru, pegawai tata usaha, dan pegawai sekolah
lainnya. Sebagai pemimpin, ia harus mengetahui, mengerti dan memahami semua hal
yang berkaitan dengan administrasi sekolah. Dalam melaksanakan fungsinya
sebagai pimpinan organisasi pendidikan di sekolah, kepala sekolah harus
meneliti berbagai persyaratan tertentu agar ia dapat menjalankan tugasnya
dengan baik. Beberapa persyaratan tersebut, di antaranya adalah memiliki
ijazah, kemampuan mengajar, dan kepribadian yang baik serta memiliki pengalaman
bekerja pada sekolah yang sejenis.
Syarat
lainnya harus dimiliki oleh kepala sekolah adalah memiliki kepribadian yang
baik. Segi kepribadian ini memegang peranan penting dalam kegiatan administrasi
di sekolah. Seorang kepala sekolah yang tidak berpendirian, emosional, ceroboh,
pemarah, dan berbagai sifat buruk lainnya akan menghambat tercapainya tujuan pendidikan
organisasi sekolah.
Kepala
sekolah juga harus memiliki pengetahuan dan kecakapan tinggi yang sesuai dengan
bidang tanggung jawabnya dalam sekolah tersebut, Kepala sekolah juga harus
memiliki ide-ide kreatif yang dapat meningkatkan perkembangan sekolah. Tugas-tugas
kepala sekolah itu adalah sebagai berikut:
1. Membuat
perencanaan; perencanaan ini berkaitan dengan program pengajaran, kesiswaan,
pembinaan guru, pengembangan kurikulum, dan pelaksanaan pengembangan aktivitas
siswa yang bersifat intra dan ekstrakurikuler.
2. Pengembangan
dan pemberdayaan kepegawaian.
3. Pengelolaan
administrasi keuangan sekolah.
4. Pengembangan
sarana dan prasarana sekolah.
Sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah juga harus
memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional dalam melakukan
hal-hal sebagai berikut:
1. Pelaksana
kegiatan yang arif dan bijaksana, serta tidak memaksakan kehendak;
2. Pemimpin
yang berwibawa dan loyal terhadap kewajibannya;
3. Seorang
yang ahli dan terampil;
4. Perencana
yang penuh dedikasi kepada yang telah direncanakannya;
5. Pengambil
keputusan yang sigap, akurat, dan penuh perhitungan ke depan;
6. Perilakunya
sebagai representasi dari semua bawahannya;
7. Pengawas
yang memberi teladan dengan pedoman Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun
karso, Tut wuri handayani;
8. Motivator
dan stabilisator untuk segala situasi dan kondisi.
Fungsi manajemen
sekolah dilihat dari wujud problemnya terdiri dari bidang-bidang garapan
(substansi) dari manajemen sekolah. Problema-problema yang merupakan bidang
garapan dari manajemen sekolah terdiri dari:
1. Bidang
pengajaran atau lebih luas disebut kurikulum
2. Bidang
Kesiswaan
3. Bidang
personalia
4. Bidang
keuangan
5. Bidang
sarana
6. Bidang
prasarana, dan
7. Bidang
hubungan sekolah dengan masyarakat (humas)
Fungsi manajemen sekolah dilihat dari aktivitas atau
kegiatan manajemen meliputi:
1. Kegiatan
manajerial yang dilakukan oleh para pemimpin.
Kegiatan
manajerial meliputi:
a. Perencanaan
b. Pengorganisasian
c. Pengarahan
d. Pengoordinasian
e. Pengawasan
f. Penilaian
g. Pelaporan,
dan
h. Penentuan
anggaran
2. Kegiatan
yang bersifat operatif, yakni kegiatan yang dilakukan oleh para pelaksana.
Fungsi operatif ini meliputi
pekerjaan - pekerjaan:
a. Ketatausahaan
yang dapat merembes dan dapat diperlukan oleh semua unit yang ada dalam
organisasi.
b. Perbekalan.
c. Kepegawaian.
d. Keuangan,
dan
e. Humas
Pola kepemimpinan efektif adalah suatu gaya atau
model kepemimpinan yang memperhatikan dimensi-dimensi hubungan antarmanusia (human
relation), dimensi pelaksanaan tugas dan dimensi situasi dan kondisi di mana
kita berada.
D.
Prinsip-prinsip
Manajemen Sekolah
Dalam pengelolaan sekolah agar dapat mencapai tujuan
sekolah dengan baik, maka perlu mendasarkan pada prinsip-prinsip manajemen
sebagai berikut:
1.
Prinsip efisiensi, yakni dengan
penggunaan modal yang sedikit dapat menghasilkan hasil yang optimal.
2.
Prinsip efektivitas, yakni ketercapaian
sasaran sesuai tujuan yang diharapkan.
3.
Prinsip pengelolaan, yakni seorang
manajer harus melakukan pengelolaan sumber-sumber daya yang ada.
4.
Prinsip pengutamaan tugas pengelolaan,
yakni seorang manajer harus mengutamakan tugas-tugas pokoknya.
5.
Prinsip kerjasama, yakni seorang manajer
hendaknya dapat membangun kerja sama yang baik secara vertikal maupun secara
horizontal, dan
6.
Prinsip kepemimpinan yang efektif, yakni
bagaimana seorang manajer dapat memberi pengaruh, ajakan pada orang lain untuk
pencapaian tujuan bersama.
Kepala sekolah harus memiliki beberapa persyaratan
untuk menciptakan sekolah yang mereka pimpin menjadi semakin efektif, antara
lain:
1.
Memiliki kesehatan jasmani dan rohani.
2.
Berpegang tujuan pada tujuan yang dicapai.
3.
Bersemangat.
4.
Cakap di dalam memberi bimbingan.
5.
Cepat dan bijaksana di dalam mengambil
keputusan.
6.
Jujur.
7.
Cerdas.
8.
Cakap di dalam hal mengajar dan menaruh
kepercayaan yang baik dan berusaha untuk mencapainya.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas
kepemimpinan adalah:
1.
Kepribadian, pengalaman masa lalu dan
harapan pimpinan. Hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang, dan
pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya..
2.
Pengharapan dan perilaku atasan.
3.
Karakteristik, harapan dan perilaku
bawahan mempengaruhi terhadap gaya kepemimpinan manajer.
4.
Kebutuhan tugas; setiap tugas bawahan
juga akan mempengaruhi gaya kepemimpinan.
5.
Iklim dan kebijakan organisasi
mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan.
6.
Harapan dan perilaku peran.
Seorang pemimpin sekolah harus dapat memahami,
mendalami, dan menerapkan beberapa konsep ilmu manajemen.
Untuk seorang pimpinan sekolah, suatu teori
manajemen sangat berfungsi dalam memecahkan masalah-masalah yang timbul. Oleh
karena itu, falsafah, asumsi, prinsip, dan teori tentang manajemen merupakan
landasan manajerial yang harus dipahami, dihayati, dan diterapkan bagi seorang
pemimpin sekolah.
E.
Ruang
Lingkup Manajemen Kelas
1. Definisi
Manajemen Kelas
Manajemen kelas
dapat didefinisikan seperti berikut ini.
a. Manajemen
kelas adalah seni atau praksis (praktik dan strategi) kerja di mana guru
bekerja secara individu, dengan atau melalui orang lain (semisal bekerja dengan
sejawat atau siswa sendiri) untuk mengoptimalkan sumber daya kelas bagi
penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
b. Manajemen
kelas adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan oleh
guru, baik individual maupun dengan atau tanpa melalui orang lain (semisal
dengan sejawat atau siswa sendiri) untuk mengoptimalkan proses pembelajaran.
c. Manajemen
kelas adalah proses perencanaan, pengorganisasian, aktuasi, dan pengawasan yang
dilakukan oleh guru, baik indi¬vidual maupun dengan atau melalui orang lain
(semisal sejawat atau sendiri) untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan
efisien, dengan cara memanfaatkan segala sumber daya yang ada.
Definisi manajemen kelas telah mengalami pergeseran
secara paradigmatik meskipun esensi dan tujuannya relatif sama, yaitu
terselenggaranya proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Efisiensi dan
efektivitas pembelajaran di ukur menurut nilai-nilai pendidikan yang dianut
pada saat itu. Nilai-nilai dimaksud bisa nilai-nilai perjuangan, kognitif,
afeksi, solidaritas sosial, moralitas, keagamaan, dan sebagainya dikaitkan
dengan sumber daya yang digunakan.
Dilihat dari wujud problemnya manajemen sekolah
secara substansial meliputi bidang garapan-bidang garapan antara lain:
a.
Bidang kurikulum.
b.
Bidang kesiswaan.
c.
Bidang personalia yang mencakup tenaga
edukatif dan tenaga administrasi.
d.
Bidang sarana yang mencakup segala hal
yang menunjang secara langsung pada pencapaian tujuan.
e.
Bidang prasarana, mencakup segala hal
yang menunjang secara tidak langsung pada pencapaian tujuan, dan
f.
Bidang hubungan dengan masyarakat,
berkaitan langsung dengan bagaimana sekolah dapat menjalin hubungan dengan
masyarakat sekitar.