Unruh dan
Unruh (1984:97) mengatakan bahwa proses pengembangan kurikulum a complex
process of assessing needs, identifying desired learning outcomes, preparing
for instruction to achieve the outcomes, and meeting the cultural, social, and
personal needs that the curriculum is to serve. Berbagai faktor seperti
politik, sosial, budaya, ekonomi, ilmu, teknologi berpengaruh dalam proses
pengembangan kurikulum.
Oleh
karena itu Olivia (1992:39-41) selain mengakui bahwa pengembangan kurikulum
adalah suatu proses yang kompleks lebih lanjut mengatakan “curriculum is a
product of its time. . . curriculum responds to and is changed by social
forced, philosophical positions, psychological principles, accumulating
knowledge, and educational leadership at it’s moment in history”.
David
Pratt (1980) mengemukakan bahwa istilah lebih mengena dibandingkan dengan
pengembangan yang mengandung konotasi bersifat grradual. Desain adalah proses
yang disengaja tentang suatu pemikiran , perencanaan dan penyeleksian
bagian-bagian, tehnik dan prosedur yang mengatur suatu tujuan atau usaha.
Dengan pengertian tersebut, pengembangan kurikulum diartikan sebagai proses
atau kegiatan yang disengaja dan dipikirkan untuk menghasilkan sebuah kurikulum
sebagai pedoman dalam proses dan penyelenggaraan pembelajaran oleh guru di
sekolah.
Seller dan
Miller (1985) mengemukakan bahwa proses pengembangan kurikulum adalah rangkaian
kegiatan yang dilakukan secara terus menerus, yang meliputi Orientasi,
pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Seller memandang bahwa pengembangan
kurikulum harus dimulai dari menentukan orientasi, yakni kebijakan-kebijakan
umum meliputi enam aspek : tujuan pendidikan, pandangan tentang anak, pandangan
tentang proses pembelajaran, pandangan tentang lingkungan , konsepsi tentang
peranan guru, dan evaluasi. Berdasarkan orientasi selanjutnya dikembangkan
kurikulum menjadi pedoman pembelajaran, diimplementasikan dalam bentuk proses
pembelajaran dan dievaluasi. Hasil evaluasi tersebut kemudian dijadikan bahan
dalam menentukan orientasi, begitu seterusnya, hingga membentuk siklus.
Dari
pendapat Seller tersebut, pengembangan kurikulum pada hakekatnya adalah
pengembangan komponen-komponen yang membentuk sistem kurikulum itu sendiri
serta pengembangan komponen pembelajaran. Dengan demikian maka pengembangan
kurikulum memiliki dua sisi yang sama penting. Satu sisi sebagai pedoman yng
kemudian membentuk kurikulum tertulis (written curriculum atau document
curriculum) dan sisi kurikulum sebagai implementasi (curriculum implementation)
yaitu sistem pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar